BAB I. PENDAHULUAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan ekonomi suatu bangsa memerlukan pola pengaturan pengolah sumber-sumber ekonomi yang tersedia secara terarah dan terpadu serta dimanfaatkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Lembaga-lembaga perekonomian bahu-membahu mengelola dan menggerakan semua potensi ekonomi agar berdaya dan berhasil guna secara optimal lembaga keuangan khususnya lembaga perbankan baik konvensional maupun syariah mempunyai peranan yang amat strategis dalam menggerakan roda perekonomian suatu bangsa.

Bank Konvensional adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka menyalurkan dananya, memberikan dan mengenakan imbalan berupa bunga atau sejumlah imbalan dalam persentase tertentu dari dana untuk suatu periode tertentu. (Sigit Triandaru & Totok Budisantoso : 2006 : 153). Salah satu kegiatan usaha bank konvensional adalah memberikan kredit atau bantuan permodalan, berdasarkan UU Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah “penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan seperti itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Di dalam pemberian kredit terdapat dua pihak yang berkepentingan langsung yaitu pihak yang kelebihan uang disebut pemberi kredit dan yang membutuhkan disebut penerima kredit. Bilamana terjadi pemberian kredit berarti pihak yang berkelebihan uang memberikan uangnya (prestasi) kepada pihak yang membutuhkan uang dan pihak yang memerlukan uang berjanji akan mengembalikan uang tersebut di suatu waktu tertentu dimasa yang akan datang. Di sini kemudian terkait faktor waktu antara pemberian prestasi dan penerima kembali prestasi tersebut. Tenggang waktu antara pemberian dan penerima kembali prestasi ini adalah sesuatu hal yang  abstrak, yang dapat diukur secara nyata, sukar untuk diraba. Masa antara pemberian dan penerimaan prestasi tersebut dapat berjalan beberapa menit saja dan dapat pula berlangsung dalam beberapa tahun. Karenanya dalam kredit terkandung pula pengertian tentang degree of risk, suatu tingkat risiko tertentu, oleh karena pelepasan kredit mengundang suatu risiko bagi penerima kredit.

Bank syariah adalah bank yang dalam akrtivitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya, memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil. (Sigit Triandaru & Totok Budisantoso : 2006 : 153).

Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Harga jual tidak boleh berubah selama masa perjanjian. (QS. An-Nisa 4:29). Bentuk jual – beli ini berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW dari Syuaib ar Rumy r.a : “Tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkatan : pertama, menjual dengan pembayaran tangguh ( murabahah), kedua muqaradhah (nama lain dari mudharabah) dan ketiga, mencampuri tepung dengan gandum untuk kepentingan rumah, bukan untuk diperjual-belikan.” (Subulussalam, HR. Ibnu Majah : 147).

Dalam teknis perbankan, murabahah adalah akad jual – beli antara bank selaku penyedia barang (penjual) dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang. Bank memperoleh keuntungan yang disepakati bersama. Rukun dan syarat murabahah adalah sama dengan rukun dan syarat dalam fiqih, sedangkan syarat-syarat lain seperti barang, harga dan cara pembayarannya adalah sesuai dengan kebijakan bank yang bersangkutan.

Pertumbuhan ekonomi masyarakat salah satunya dengan peran serta perbankan dalam melayani kebutuhan masyarakat. Bank dituntut untuk maju kedepan sebagai pemberi informasi yang cepat dan akurat, dalam menyikapi kebutuhan masyarakat tersebut.

Bank merupakan suatu lembaga keuangan yang menjadi tempat menyimpan dana bagi perusahaan, badan-badan pemerintah, swasta, maupun perorangan. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiayaan serta memperlancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian.

Dalam menyalurkan dana kepada masyarakat untuk menambah modal guna kelancaran usaha yang dijalankannya, maka pihak perbankan memberikan kebijakan dan pengelolaan diantaranya dengan adanya berbagai fasilitas kredit yang ditawarkan kepada masyarakat untuk memberikan pinjaman dengan jangka waktu yang bervariasi dan bunga yang ditetapkan serta prosedur dalam pemberian kredit yang tidak membingungkan nasabahnya. Akan tetapi perbankan tidak mudah dalam pemberian fasilitas kredit kepada nasabahnya, karena perbankan harus mengenal kredibilitas nasabah. Salah satu contohnya adalah perbankan sangat memperhatikan segi sosial dan ekonomi nasabah dalam pemberian fasilitas kredit, hal tersebut bisa diketahui apabila masyarakat mempunyai rekenin di bank.

Dalam perbankan pembiayaan mempunyai peranan penting terutama untuk menyalurkan dana kepada masyarakat untuk menghadapi masalah dan atau modal kerja terutama untuk sektor usaha menengah kebawah yang mempunyai masalah permodalan untuk menjalankan kegiatan usahanya guna meningkatkan pendapatan.

Dalam pelaksanaan pemberian fasilitas kredit kepada nasabahnya, bank komersil dihadapkan pada suatu masalah yang cukup kompleks yaitu “Kepada siapa kredit itu harus diberikan, untuk (obyek) apa kredit itu harus diberikan, apakah calon nasabah debitur yang akan menerima kredit kiranya akan mampu memberikan pokonya ditambah dengan bunga serta kewajiban lainnya, berapa jumlah (plafond, maksimum kredit) yang layak untuk diberikan dan apakah kredit yang diberikan tersebut cukup aman atau resikonya kecil”. Selain masalah-masalah umum yang harus dipecahkan oleh perbankan dalam pemberian kredit, juga dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang sifatnya sangat khusus yang menyangkut kegiatan usaha dari calon debitur secara spesifik. Sebab perkreditan telah dikemukakan di muka mempunyai sifat yang “kasuasistis” artinya masing-masing (calon) debitur mempunyai permasalahan yang sangat spesifik berbeda secara materiil antara satu nasabah dengan nasabah lainnya. Oleh karena itu antara satu nasabah dengan nasabah lain diperlukan adanya pendekatan dan penanganan secara berbeda dan sangat memperhatikan ciri-ciri khusus dari usahanya.

Satu hal yang membedakan antara manajemen bank syariah dengan bank umum (konvensional) adalah terletak pada pembiayaan dan pemberian pada balas jasa, baik yang diterima oleh bank maupun investor. Jika dilihat pada bank umum, pembiayaan disebut loan, sementara di bank syariah disebut financing. Sedangkan balas jasa yang diberikan atau diterima pada bank umum berupa bunga (interest loan atau deposit) dalam prosentase pasti. Sementara pada bank syariah hanya memberi dan menerima balas jasa berdasarkan perjanjian (akad) bagi hasil dan margin keuntungan adalah murabahah.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mengambil judul :

“ANALISA PERBANDINGAN KREDIT BANK KONVENSIONAL DENGAN PEMBIAYAAN MURABAHAH BANK SYARIAH”. (Studi empiris di Bank Jabar Banten Cabang Tasikmalaya dan PT. Bank Muamalat Indonesia Cabang Tasikmalaya).

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pemberian kredit pada Bank Konvensional ?
  2. Bagaimana pembiayaan murabahah pada Bank Syariah ?
  3. Bagimana analisa perbandingan pemberian kredit Bank Konvensional dengan pembiayaan murabahah Bank Syariah ?

1.3 Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengetahui pemberian kredit pada Bank Konvensional.
  2. Untuk mengetahui pembiayaan murabahah pada Bank Syariah.
  3. Untuk mengetahui analisa perbandingan pemberian kredit Bank Konvensional dengan pembiayaan murabahah Bank Syariah.

1.4 Kegunaan Penelitian

  1. Bagi Akademis

Bahwa penelitian ini merupakan pengetahuan baru dan dapat dijadikan perbandingan antara teori yang diperoleh dibangku perkuliahan dengan praktek yang terjadi lapangan dan mudah-mudahan bisa menjadi tambahan literatur di Fakultas Agama Islam.

  1. Bagi Praktisi

Sebagai bahan masukan atau perbandingan dan analisis dalam pemilihan mekanisme pemberian kredit, sehingga dapat mengambil langkah yang bersifat korektif dalam menempuh kebijakan selanjutnya.

  1. Bagi Umum

Memberikan informasi penting bagi perusahaan-perusahaan sejenis dalam menentukan mekanisme pemberian kredit yang baik.

1.5 Kerangka Pemikiran

Bank merupakan salah satu urat nadi perekonomian sebuah negara, tanpa Bank, bisa kita bayangkan bagaimana kita sulitnya menyimpan dan mengirimkan uang, memperoleh tambahan modal usaha atau melakukan transaksi perdagangan Internasional secara efektif dan aman. Kita semua hampir pernah datang ke Bank, seperti menabung atau mengirim uang, megajukan pembiayaan dll.

Menurut UU RI No.7 Tahun 1992 Bab I pasal 1 ayat 1 tentang perbankan : Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkaan taraf hidup rakyat banyak.

Salah satu lembaga keuangan atau bank yang ada di Indonesia yaitu bank konvensional, adalah bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka menyalurkan dananya, memberikan dan mengenakan imbalan berupa bunga atau sejumlah imbalan dalam persentase tertentu dari dana untuk suatu periode tertentu.

Dana-dana yang telah berhasil dihimpun disalurkan dalam berbagai macam bentuk penggunaan dana dengan tujuan dasar untuk memperoleh penerimaan. Agar penyaluran dana tersebut dapat menghasilkan keuntungan bagi bank, maka biaya yang dikeluarkan dalam penghimpunan dana harus lebih kecil daripada penerimaan yang diperoleh dari penyaluran dana. Pemikiran inilah yang melandasi penerapan tingkat bunga pinjaman yang lebih besar daripada tingkat bunga simpanan. Tingkat bunga simpanan ditambah dengan berbagai unsur dijadikan dasar untuk menentukan tingkat bunga pinjaman bank. Perhitungan umum dalam penentuan tingkat bunga pinjaman dan contohnya dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 1

Komponen Perhitungan Tingkat Bunga Pinjaman

NO

Deskripsi Komponen Penghitungan Tingkat Bunga Pinjaman

Contoh Penghimpunan

1

Biaya bunga simpanan (rata-rata tertimbang bunga berbagai macam bentuk simpanan masyarakat di bank yang bersangkutan)

6,00%

2

Reserve adjustment (proposi dana simpanan dari masyarakat yang dialokasikan sebagai cadangan untuk tujuan likuiditas)

1,00%

3

Biaya pelayanan dan pengelolaan simpanan dana masyarakat

0,05%

4

Penjumlahan 3 komponen diatas disebut dengan Marginal Cost of Fund

7,05%

5

Biaya pelayanan dan pengelolaan fasilitas kredit/pinjaman

1,00%

6

Profit Margin (tingkat keuntungan yang diinginkan oleh bank)

2,00%

7

Penjumlahan 3 komponen diatas disebut dengan Base Rate

10,05%

8

Risik Adjustment (proporsi dari total penyaluran dana yang dianggap berisiko untuk tidak dapat ditarik kembali atau menjadi bermasalah)

5,00%

9

Lending Rate (tingkat bunga pinjaman yang wajib dibayar oleh debitur)

15,05%

Dalam perbankan baik bank konvensional atau bank syariah, pembiayaan mempunyai peranan penting terutama untuk menyalurkan dana kepada masyarakat untuk menghadapi masalah dan atau modal kerja terutama untuk sektor usaha menengah kebawah yang mempunyai masalah permodalan untuk menjalankan kegiatan usahanya guna meningkatkan pendapatan.

Pada bank umum (konvensional) pembiayaan dikenal dengan istilah kredit. Menurut Eric L. Kohler “A. Dictionary For Accountants” (1964 : 151) kredit yaitu kemampuan untuk melaksanakan suatu pembelian atau mengadakan suatu pinjaman dengan suatu janji pembayaran akan dilakukan ditangguhkan pada suatu jangka waktu yang disepakati. (Dikutip oleh Teguh Pudjo Muljono : 1990 : 9).

Kredit yang diberikan oleh bank terdiri dari berbagai jenis tergantung dari kemampuan bank yang menyalurkannya. Demikian juga dengan jumah serta tingkat suku bunga yang ditawarkan.

Menurut UU Perbankan No. 10 Tahun 1998, Kredit adalah : “ Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam anata bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Sebelum kredit dikucurkan bank terlebih dulu menilai kelayakan kredit yang diajukan, dengan tujuan agar bank yakin bahwa kredit / pinjaman yang diberikan (PYD) benar-benar aman. Penilaian kelayakan kredit ini mencakup, latar belakang masalah atau perusahaan, Prospek Usaha, Jaminan yang diberikan dan lain-lain.

Dalam pembayaran pembiayaan perbankan konvensional, pembayaran cicilan pokok dan bunga dipisahkan, dan nasabah hanya perlu membayar sisa cicilan      pokok + sisa cicilan bunga, di bayarkan pada hari terakhir pembiayaannya dilunasi. Hal ini yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang mengajukan pembiayaan kepada bank konvensional.

Sistem keuangan dan perbankan moderen telah berusaha memenuhi kebutuhan manusia untuk mendanai kegiatannya, bukan dengan dananya sendiri, melainkan dengan dana orang lain, baik dengan menggunakan prinsip penyertaan dalam rangka pemenuhan permodalan (equity financing) maupun dengan prinsip pinjaman dalam rangka pemenuhan kebutuhan pembiayaan (dedt financing).

Islam mempunyai hukum sendiri untuk memenuhi kebutuhan tersebut, yaitu melalui akad-akad bagi hasil (profit and loss sharing), sebagai metode pemenuhan kebutuhan permodalan (equity financing), dan akad-akad jual-beli (al-bai’) untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan (dedt financing). Bank Islam tidak menggunakan metode pinjam-meminjam uang dalam rangka kegiatan komersil, karena setiap pinjam-meminjam uang yang dilakukan dengan persyaratan atau jaji pemberian imbalan adalah termasuk riba (Zainul Arifin : 2006 : 17).

Menurut UU No. 21 Tahun 2008 tentang Bank Syariah pasal I  Bank Syariah adalah segala sesuatu yang mengangkat tentang Bank Syariah dari Undang Undang Syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya.

Bank Syariah adalah bank yang dalam akrtivitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil.

Salah satu bentuk kegiatan bank syariah adalah  memberikan fasilitas di dalam pembiayaan, seperti pembiayaan dalam sistem murabahah. Bank muamalat atau bank Islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lalulintas pembayaran serta peredaran uang yang pengoprasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

Murabahah adalah salah satu bentuk jual-beli yang bersifat amanah. Bentuk jual-beli ini berdasarkan pada sabda Rasulullah SAW dari Syuaib ar Rumi r.a.:

عَنْ صَالِحٍ بْنِ مُهَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلََّّى اللهُ عَلَيْهِ وَسلَّمْ ثَلاَََثُ فِيْهِنََّ الْبَيْعَ اِلَى اَجَلٍ وَالْمُقَارَضَةُ وَاَخَلاَطُ الْبِرُّ بِالشَّحِيْرِ لِلْبَيْتِ لاَ لِلْبَيْعِ

“tiga perkara didalamnya terdapat keberkatan, pertama menjual secara kredit, kedua muqharadah (nama lain dari mudharabah) dan ketiga mencampurkan tepung dengan gandrum untuk kepentingan rumah tangga dan bukan untuk dijual” (Subulussalam, HR. Ibnu Majah : 147).

Al Murabahah adalah kontrak jual-beli atas barang tertentu. Dalam transaksi jual-beli tersebut penjualan harus menyebutkan dengan jelas barang yang diperjual belikan dan tidak termasuk barang haram. Demikian juga harga pembelian dalam keuntungan yang diambil dan cara pembayaran harus disebutkan dengan jelas. (Zainul Arifin : 2006 : 22).

Menurut Drs. H. Karnaen Permataatmadja dan H. Muhammah Safi’i Antonio (1992 : 106) pembiayaan murabahah adalah “suatu perjanjian yang disepakati antara bank dengan nasabahnya dimana bank menyediakan untuk pembelian bahan baku atau modal kerja lainnnya yang dibutuhkan nasabahnya yang akan dibayar kembali oleh nasabahnya sebesar harga jual bank (jual beli plus margin keuntungan pada saat jatuh tempo)”.

Dasar hukum pembiayaan murabahah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 275, Yaitu :.

¨@ymr&ur ª!$# yìø‹t7ø9$# tP§ymur (#4qt/Ìh9$# ….

“…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Al-Qur’an dan terjemah : Depag RI).

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 282 tentang ketentuan di dalam pemberian fasilitas kredit (dalam jangka waktu yang ditentukan), yaitu :

$yg•ƒr’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#y‰s? Aûøïy‰Î/ #’n<Î) 9@y_r& ‘wK|¡•B çnqç7çFò2$$sù …4 ÇËÑËÈ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya…”. (Al-Qur’an dan terjemah : Depag RI).

Maksud kata bermuamalah pada ayat diatas seperti berjual beli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya. (Al-quran Digital : 1: 282 “www.alqur’an-digilat.com).

Dalam perihal jaminan sebagaimana dituangkan dalam surat AL-Baqarah ayat 283. yaitu

bÎ)ur óOçFZä. 4’n?tã 9xÿy™ öNs9ur (#r߉Éfs? $Y6Ï?%x. Ö`»yd̍sù ×p|Êqç7ø)¨B ( ÷bÎ*sù z`ÏBr& Nä3àÒ÷èt/ $VÒ÷èt/ ÏjŠxsã‹ù=sù “Ï%©!$# z`ÏJè?øt$# ¼çmtFuZ»tBr& È,­Gu‹ø9ur ©!$# ¼çm­/u‘ 3 Ÿwur (#qßJçGõ3s? noy‰»yg¤±9$# 4 `tBur $ygôJçGò6tƒ ÿ¼çm¯RÎ*sù ÖNÏO#uä ¼çmç6ù=s% 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÒOŠÎ=tæ ÇËÑÌÈ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Qur’an dan terjemah : Depag RI).

Maksud ayat diatas adalah “apabila sedang bermuamalah tidak secara tunai sedangkan tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipeganga (jaminan)” maksudnya ; apabila Barang tanggungan itu diadakan bila satu sama lain tidak saling mempercayai. Namun apabila saling mempercayai antara pemberi pinjaman dan peminjam maka tidak diharuskan adanya tanggungan. (Al-quran Digital : 1: 283 “www.alqur’an-digilat.com).

Jadi jaminan dalam pembiayaan murabahah ini sifatnya mengikat yaitu menghindari agar si peminjam atau si pemesan tidak main-main dengan pesanannya.

Dalam teknis perbankan, murabahah adalah akad jual-beli antara bank selaku penyediaan barang (penjual) dengan nasabah yang memesan untuk membeli barang. Bank memperoleh keuntungan jual-beli yang disepakati bersama. Rukun dan Syarat murabahah adalah sama dengan  rukun dan syarat dalam fiqih, sedangkan syarat-syarat lain seperti barang, harga dan cara pembayaran adalah sesuai dengan kebijakan bank yang bersangkutan. Harga jual bank adalah harga beli dari pemasok ditambah keuntungan yang disepakati bersama. Jadi nasabah mengetahi keuntungan yang diambil oleh bank.

Selama akad belum berakhir maka harga jual-beli tidak boleh berubah. Apabila terjadi perubahan maka akad tersebut menjadi batal. Cara pembayaran dan jangka waktunya disepakati bersama, bisa secara lumpsun ataupun secara angsuran. Murabaha dengan pembayaran secara angsuran ini disebut juga bai’bi tsaman ajil. Dalam prakteknya nasabah yang memesan untuk membeli barang menunjuk pemasok yang telah diketahuinya menyediakan barang dengan spesifikasi dan harga yang sesuai dengan keinginannya. Atas dasar itu bank melakukan pembelian secara tunai pemasok yang dikehendaki oleh nasabahnya, kemudian menjual secara tangguh kepada nasabah yang bersangkutan.

Melalui akad murabahah, nasabah dapat memenuhi kebutuhannya untuk memperoleh dan memiliki barang yang dibutuhkan tanpa harus menyediakan uang tunai lebih dulu. Dengan kata lain nasabah telah memperoleh pembiayaan dari bank untuk pengadaan barang tersebut. (Zainal Arifin : 2006 : 23).

Skema Fiqh Pembiayaan  Murabahah

Gambar 1

Ada beberapa perbedaan antara pembiayaan murabahah dengan sistem bunga, yaitu ; bank konvensional adalah bank yang dalam aktivitasnya memobilisasi dan menerima dana masyarakat diberi bunga dan dalam operasi atau penyaluran dana oleh bank dikenakan bunga pinjaman, Sedangkan bank syariah adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.

Perbedaan pokok antara bank konvensional dengan bank syariah terletak pada landasan falsafah yang dianutnya. Bank syariah tidak melaksanakan  sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya sedangkan bank konvensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah, dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem yang dikembangkan adalah jual beli serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Pada dasarnya, semua transaksi perniagaan melalui bank syariah sistem bunga berbunga atau compound interest yang dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya kewajiban salah satu pihak. (Sigit Triandaru Dan Totok Budisantoso : 156 : 2006). Dari studi perbandingan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa prinsip-prinsip yang digunakan dalam pertimbangan kelayakan kredit dan pembiayaan adalah sama, yaitu sama-sama mengacu pada prinsip 5 C yaitu, Character (menilai sifat atau watek dari calon debitur termasuk dengan gaya hidupnya), Capacity (kemampuan calon debitur dalam bidang bisnisnya), Capital (melihat keefektifan penggunaan modal, dilihat dari laporan keuangan dengan mengukur segi likuiditas, solvabilitas, rentabilitas), Collateral (melihat nilai jaminan baik fisik maupun non fisik) dan Condition of Economy (melihat kondisi perekonomian yang dikaitkan dengan bidang usaha). Perbedaannya hanya terletak pada penekanannya dimana bank konvensional lebih menekankan pada aspek jaminannya (collateral) sedangkan pembiayaan pada bank Syariah lebih mengutamakan aspek pribadi / karakter individu (character). Mengenai prosedur, kedua jenis pinjaman ini (kredit maupun pembiayaan) mempunyai prosedur tertentu yang ditentukan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh masing-masing bank.

Secara ringkas perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional dapat di lihat dari tabel berikut :

Tabel 2

Perbedaan Antara Bank Syariah Dengan Bank Konvensional

NO

Bank Syariah

Bank Konvensional

1

Berinvestasi pada usaha yang halal Bebas nilai

2

Atas dasar bagi hasil, margin keuntungan dan fee Sistem bunga

3

Besaran bagi hasil berubah-ubah tergantung kinerja usaha Besarannya tetap

4

Profit dan falah oriented Profit oriented

5

Pola hubungan kemitraan Hubungan debitur-kreditur

6

Ada Dewan Pengawas Syariah Tidak ada lembaga sejenis

(Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso : 2006 : 157)

Sistem bagi hasil dalam perbankan syariah sering menjadi bahan pertanyaan dan selalu dibandingkan dengan sistem bunga dalam perbankan konvensional. Menurut Sigit Triandaru dan Totok Budisantoso ( 2006 : 157) perbandingan antara sistem bagi hasil dengan bunga bisa dilihat dari tabel berikut ;

Tabel 3

Perbandingan Sistem Bunga Dengan Bagi Hasil

NO

Sistem Bunga

Sistem Bagi Hasil

1

Penentuan suku benga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak bank Penentuan besarnya resiko bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung dan rugi

2

Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan Besarnya rasio (nisbah) bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh

3

Tidak tergatung kepada kinerja usaha jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik Tergantung kepada kinerja usaha. Jumlah pembagian bagi hasil meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah pendapatan

4

Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk Agama Islam Tidak ada agama yang meragukan keabsahan bagi hasil

5

Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi Bagi hasil tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Jika proyek itu tidak mendapatkan keuntungan maka kerugian akan di tanggung bersama oleh kedua belah pihak.

Jika dilihat dari dua penjelasan diatas antara bank konvensional dengan bank syariah, penulis berpendapat. Bahwa bank syariah lebih baik daripada bank konvensional. karena prinsip utama operasionalnya  adalah hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits.

Larangan terutama yang berkaitan dengan kegiatan bank yang dapat diklasifikasikan sebagai riba. Dalam hukum Islam, bunga adalah riba dan diharamkan. Oleh karena itu dalam menjelaskan kegiatan operasionalnya, bank berdasarkan prinsip syariah tidak menggunakan sistem bunga dalam menentukan imbalan atas dana yang digunakan atau dititipkan oleh suatu pihak, penentuan imbalan terhadap dana yang dipinjamkan maupun dana yang disimpan di bank didasarkan pada prinsip bagi hasil sesuai dengan hukum Islam.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: